International Symposium “Art, Craft, and Design in Southeast Asia : in The Era of Creative Industry 2017” Faculty of Visual Art ISI Yogyakarta

Pada hari Kamis, 16 November 2017 bertempat di Gedung Sasana Ajiyasa Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta telah dilaksanakan Kegiatan International Symposium “Art, Craft, and Design in Southeast Asia : in The Era of Creative Industry 2017” dengan dua sesi seminar yaitu sesi I dengan tiga orang pembicara dari luar negeri yaitu : Dr. Toeingan Guptabutra (Silipakorn University Thailand), Dr. Ian Woo (Lasalle Collage of The Arts Singapore), Dr. Mumtaz Mokhtar (UiTM Malaysia), dan sesi II dengan tiga pembicara dari dosen Fakultas Seni Rupa IISI Yogyakarta : Dr. Timbul Raharjo, M.Hum., Noor Jayadi, MA., Nadiyah Tunnikmah, MA.,  dimana acara tersebut diikuti oleh 150 orang  peserta luar dan dari dalam Institut Seni Indonesia Yogyakarta., dengan tema “Art, Craft, and Design in Southeast Asia : in The Era of Creative Industry 2017”.

Adapun latar belakang dari tema tersebut adalah sebagian besar negara Asia Tenggara dihuni oleh sejumlah kelompok etnis dan beragam bahasa. Perbedaan latar belakang, sejarah, dan budaya sosial negara-negara ini telah menyebabkan kelimpahan kebijaksanaan dan kecerdikan lokal yang merupakan kekuatan besar dalam menghadapi persaingan global di setiap sektor. Secara khusus, mereka memiliki potensi besar untuk mempengaruhi seni dan budaya. Melalui sumber daya sosial budaya yang heterogen, negara-negara Asia Tenggara memiliki kesempatan besar untuk memainkan peran vital sebagai arsitek peradaban dunia kita. Salah satu cara utamanya adalah berkontribusi pada pengembangan seni dan budaya melalui industri kreatif.

Sayangnya, kekayaan seni dan budaya belum diterapkan secara tepat ke bidang industri kreatif karena kondisi sosial dan budaya yang tidak setara, lingkungan, dan kebutuhan. Inovasi lokal melalui seni dan budaya telah menjadi salah satu kekuatan yang paling andal. Namun, kekuatan ini perlu dibahas secara aktif antara negara-negara Asia Tenggara untuk mengatasi masalah yang ada, membangun kekuatan, dan mendorong kolaborasi di bidang seni, kerajinan, dan desain.

Di sisi lain, kondisi negara-negara Barat – khususnya di Eropa – telah menunjukkan jalan menuju ketidakstabilan ekonomi dan konflik politik dan sosial yang berdampak negatif terhadap perkembangan banyak sektor dan pada akhirnya menimbulkan ketidakpastian. Ini, pada kenyataannya, menghadirkan kesempatan emas bagi negara-negara Asia Tenggara untuk tampil dan bergerak agresif terutama di Asia. Negara-negara ASEAN dapat benar-benar menjadi setara dengan negara-negara Asia maju lainnya seperti China, Korea, India, dan Jepang dengan mendorong dan mengembangkan diri mereka melalui industri seni dan kreatif.

Pada saat ini, sektor kreatif telah menjadi kekuatan yang meningkat yang berkontribusi secara besar-besaran terhadap pendapatan nasional negara-negara Asia Tenggara. Keajaiban abad ke-21 adalah akses terhadap teknologi, informasi, dan akulturasi global yang luar biasa yang mendorong potensi kesuksesan. Tidak mengherankan bahwa pengaruh budaya eksternal memainkan peran penting dalam lompatan luar biasa dari industri kreatif karena mengubah keseluruhan aspek kehidupan modern.
Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan ekonomi negara-negara Asia Tenggara bergantung pada industri kreatif mereka yang hebat. Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapura, Indonesia, dan negara ASEAN lainnya sudah mulai mekar. Adanya MEA merupakan metode kolaborasi alternatif yang saling menguntungkan sebagai cara untuk menampilkan produk unggulan mereka. Kapasitas industri kreatif menjadi isu penting untuk dibahas. Berdasarkan jenius lokal, sumber daya alam, dan keragaman budaya sosial, sinergi industri kreatif antara negara-negara Asia Tenggara cukup besar. Kontribusi unik mereka tidak hanya penting, namun akan meningkatkan modal, dan perlu dipeluk dalam persaingan ketat di banyak sektor – baik sekarang maupun di masa depan.

Untuk memajukan pemetaan industri kreatif dalam hal seni, kerajinan dan desain, Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta telah memperpanjang undangan untuk menyambut peserta dari institusi lain di negara-negara Asia Tenggara. Program simposium ini bermaksud untuk menyambut pembicara dari latar belakang yang beragam terutama di bidang seni visual, kerajinan, desain, manajemen seni, dan studi media. Tujuannya adalah untuk menemukan strategi baru untuk memaksimalkan kekuatan jenius lokal di setiap negara untuk memberdayakan sub-sektor industri kreatif agar berkembang.

Dari perspektif akademis, kami berharap simposium internasional ini akan menghasilkan gagasan segar dan solusi inovatif untuk mengatasi banyak masalah yang dihadapi industri kreatif. Apalagi pertemuan ini akan memperkuat kerja sama akademis antar institusi seni di masa depan. Kami akan berupaya sebaik-baiknya untuk membuat simposium ini menjadi acara tahunan. Kami memperluas kesempatan bagi semua institusi yang terlibat untuk menjadi tuan rumah masa depan.

Kami mendorong tema yang melibatkan banyak pendekatan beragam termasuk, namun tidak terbatas pada:
– Menjelajahi industri kreatif seni, kerajinan, dan desain
– Potensi sumber daya alam dan budaya lokal sebagai kekuatan utama industri kreatif
– industri kreatif dan kemajuan teknologi
– Manajemen seni dalam industri kreatif
– konservasi seni artefak berharga dan warisan budaya di negara-negara ASEAN
– kontribusi industri kreatif sebagai solusi masalah sosial dan lingkungan melalui seni
Kami sangat berharap agar abstrak ini diterima pada tanggal 28 Oktober dan full paper tenggat waktu adalah 6 November 2017.

Simposium Internasional akan diselenggarakan pada tanggal 15-18 November 2017 di Fakultas Seni Rupa Seni Rupa Yogyakarta.

Post comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2015 Sofarider Inc. All rights reserved. WordPress theme by Dameer DJ.